Mengupas Tren Diet Modern dan Kesehatan Metabolisme: Ahli Ingatkan Bahaya Diet Ekstrem di Tengah Lonjakan Kasus Obesitas Nasional

Tren-Intermittent-Fasting-(IF)-dan-kesehatan-metabolisme-di-tengah-meningkatnya-kasus-obesitas-nasional.
June 10, 2026 • admin

TANGERANG, 9 JUNI 2026 – Di tengah maraknya tren diet modern yang populer di media sosial, masyarakat khususnya generasi muda dan pekerja produktif diingatkan untuk lebih bijak dalam memilih metode penurunan berat badan. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 80% masyarakat urban cenderung mengikuti tren diet ketat yang membatasi kelompok makanan tertentu demi mencapai bentuk tubuh ideal. Sayangnya, praktik diet yang keliru dan ekstrem justru berisiko mengganggu kinerja metabolisme tubuh, memicu defisiensi mikronutrien, hingga berdampak buruk pada kesehatan mental.

Urgensi mengenai edukasi diet yang aman ini kian mendesak mengingat Indonesia saat ini menghadapi tantangan beban ganda masalah gizi (double burden of malnutrition). Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan tren peningkatan prevalensi obesitas dewasa yang melonjak signifikan dari 10,5% menjadi 21,8%. Kondisi ini diperparah oleh laporan Kemenkes yang menyebutkan bahwa 95,8% orang dewasa di Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik (gaya hidup sedentari), yang menjadi pemicu utama gangguan metabolik seperti pradiabetes dan diabetes tipe 2.

Menanggapi fenomena ini, salah satu tenaga medis yaitu dr. Dian Ayu Safitri dari RSIA PKU Muhammadiyah Cipondoh menjelaskan dalam wawancara terbaru bahwa metode populer seperti Intermittent Fasting (IF) atau puasa berkala pada dasarnya memiliki efektivitas medis yang terbukti. Jika dijalankan dengan benar, IF efektif membantu pemulihan sel (autofagi) dan memperbaiki sensitivitas insulin. Namun, diet terbaik bukanlah yang memotong nutrisi secara ekstrem, melainkan yang dapat diadaptasi menjadi gaya hidup jangka panjang.

Banyak pelaku diet yang mengeluhkan berat badan mereka justru stagnan setelah beberapa bulan menjalani jendela puasa. Menurut dr. Ayu, kondisi weight-loss plateau tersebut bukan karena tubuh merasa bosan, melainkan sebuah bentuk adaptasi medis. Ketika seseorang menerapkan pola jendela puasa yang sama (seperti pola 16:8) dalam waktu yang terlalu lama, tubuh akan menganggap dirinya sedang dalam kondisi kekurangan makanan sehingga secara otomatis menurunkan laju metabolisme basal untuk menghemat energi. Untuk mengatasinya, diperlukan stimulus baru melalui evaluasi defisit kalori, variasi aktivitas fisik, atau penyesuaian pola puasa.

Selain faktor metabolisme yang melambat, kegagalan diet sering kali disebabkan oleh jebakan hidden calories (kalori tersembunyi) saat jendela makan dibuka. Mengonsumsi makanan secara berlebihan atau membalas dendam dengan camilan tinggi lemak, saus, dan minuman manis akan menggagalkan penurunan berat badan. Hukum kekekalan energi tetap berlaku, di mana penurunan berat badan hanya akan terjadi jika tubuh berada dalam kondisi defisit kalori.

Selain faktor metabolisme yang melambat, kegagalan diet sering kali disebabkan oleh jebakan hidden calories (kalori tersembunyi) saat jendela makan dibuka. Mengonsumsi makanan secara berlebihan atau membalas dendam dengan camilan tinggi lemak, saus, dan minuman manis akan menggagalkan penurunan berat badan. Hukum kekekalan energi tetap berlaku, di mana penurunan berat badan hanya akan terjadi jika tubuh berada dalam kondisi defisit kalori.

Obsesi yang berlebihan terhadap pola makan bersih (clean eating) juga berpotensi menggeser komitmen hidup sehat menjadi gangguan psikologis yang disebut Orthorexia Nervosa. Penderitanya ditandai dengan ketakutan obsesif terhadap makanan yang dianggap “kotor” atau tidak murni, yang berujung pada malnutrisi, kecemasan kronis, hingga isolasi sosial.

Dunia medis saat ini pun mengalami pergeseran paradigma, di mana perhatian kini lebih gencar diarahkan pada bahaya gula rafinasi dan karbohidrat sederhana ketimbang lemak sehat. Gula rafinasi terbukti memicu lonjakan insulin secara drastis yang memerintahkan tubuh menyimpan energi menjadi lemak, serta meningkatkan risiko perlemakan hati (fatty liver) dan diabetes tipe 2.

KONTAK MEDIA:

Hamdan Yuafi Mufidan, M.I.Kom.

Head of Marketing Department

RSIA PKU Muhammadiyah Cipondoh

Email: marketing@rspkumcipondoh.com

Telepon: (021) 55775013

Website: rspkumcipondoh.com/

← Promo Poli Gigi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *